Selasa, 10 Maret 2009

ANTARA BID'AH, SUNNAH, DAN DAKWAH

Di jaman sekarang ini sering kita dengar kata “bid’ah” begitu mudahnya terlontar dengan nada sinis dari mulut seseorang/segolongan muslimin/muslimat ketika melihat saudaranya sedang tahlilan, atau ketika melihat sekumpulan orang sedang membaca Maulid Diba’, Manaqib, Rothib, dll. Dan celakanya mereka mengartikan bid’ah identik dengan “Haram”, bahkan lebih parah lagi mereka mengkafirkan saudaranya sesama muslim yang melakukan semua jenis peribadatan tersebut. Na’udzubillahi min dzalik..

ASTAGHFIRULLAH…… mungkin mereka belum paham benar apa yang dimaksud dengan kata “bid’ah”.

Bid’ah dapat diartikan sebagai Pembaharuan / sesuatu yang baru, yaitu hal-hal baru yang dilakukan dimana pada jaman Nabi belum pernah ada atau dicontohkan.

Adapun Bid’ah itu sendiri dibagi menjadi 5 kategori yaitu :

1. Bid’ah Mubahah

Bid’ah yang diperbolehkan, namun tidak beroleh pahala, misalnya sholat dengan memakai celana panjang.

2. Bid’ah Mandubah

Bid’ah yang apabila dilaksanakan beroleh pahala sunnah, misalnya : tahlilan, pembacaan manaqib, do’a Akasah, rothib, peringatan maulid, dll yang kesemuanya bertujuan untuk kebaikan yaitu membimbing ke jalan ALLAH.

3. Bid’ah Makruhah

Bid’ah yang bersifat makruh, misalnya : merokok

4. Bid’ah Muharromah

Bid’ah yang dilarang / haram dilakukan terutama yang berhubungan dengan syari’at yang telah ditetapkan, misalnya : Sholat 5 waktu diubah menjadi 3 waktu, Sholat dengan bahasa Indonesia, dll.

5. Bid’ah Wajibah

Bid’ah yang wajib dilakukan terutama karena terdesak oleh suatu keadaan. Misalnya :

- Hal-hal yang berhubungan dengan metode tabligh terhadap suatu daerah agar menarik hati orang untuk memeluk Islam terlebih untuk lingkungan yang mengalami kebobrokan iman dan perbedaan budaya/adat istiadat, Contoh : Metode dakwah dengan media seni musik, dan pewayangan yang dilakukan pada jaman Walisongo.

Lantas bagaimana kita menyikapi tudingan-tudingan miring mengenai bid’ah terhadap semua peribadatan sunnah yang sering kita lakukan seperti tahlilan, perayaan maulid, pembacaan rothib, dll ??

Cara menyikapi :

· Janganlah kita tanggapi, tetapi kita jalankan terus apa yang kita lakukan dan kita yakini kebenarannya.

· Jika mereka tetap menentang, katakan ini hanyalah salah satu jalan mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memperbanyak dzikir.


Adapun Metode Dakwah ada 4 :

1. Metode Hikmah

Yaitu dengan mempelajari kandungan Al-Qur’an baik dari kandungan Hikmah Ilmiah, Hikmah Amaliah, dan Hikmah Ghoibiyah

2. Mauidhotin Hasanah / ceramah yang baik

Ceramah di sini tidak mengandung cacian / hujatan kepada satu kelompok, akan tetapi berisi anjuran dan bimbingan untuk kembali ke jalan ALLAH

3. Metode Dialogis

Metode ini dilakukan dengan mengadakan dialog / tanya jawab mengenai Islam dan seluk beluknya

4. Metode Budaya Lokal

Yaitu dengan menyelami budaya yang ada di masyarakat, untuk kemudian me ngubah budaya yang tidak Islami menjadi budaya Islami ( contoh : Tahlilan, Perayaan Maulid Nabi, dll yang menjadikan tradisi syukuran/peringatan bernuansa Islami )

Mari kita cermati arti dari ayat–ayat Al-Qur’an berikut ini :

Q.S. An-Nahl ayat 125 :

“ serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[1] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

[1] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil.

Q.S. Huud ayat 118 :

“ Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, ”

Q.S. Al-Anam ayat 149 :

Katakanlah: Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya. “

Dengan merujuk ayat-2 di atas, maka kita harus menyikapi permasalahan ini dengan bijak tanpa menimbulkan gejolak / pertentangan dan tetap menjaga keutuhan serta persatuan umat.

Demikianlah bahasan dari kami, dan untuk diketahui bahwa semua uraian di atas kami gunakan sebagai dasar pembentukan Majelis Dzikir “Najiyullah” dan sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah SWT.

Apabila terdapat kesalahan dalam tulisan di atas, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami adalah manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.

Kritik dan Saran sangat kami butuhkan. Terima kasih….




000)))) Ditulis oleh Ahmad Abdul Lathif dan Muhammad Na'san (((((000

Rabu, 17 Desember 2008

Khusyuk dalam Sholat......

Sering kita dengar banyak orang bertanya-tanya mengenai bagaimana bisa khusyuk dalam sholat?, Bagaimana sholat yang benar ?, dsb...
Sebelum kita jawab masalah ini, perlu kita sepakati dan pahami terlebih dahulu makna
Sholat tersebut.
Sholat dalam dunia thoriqoh bermakna menghadap, berserah diri dan berkomunikasi dengan Gusti ALLAH. Sholat bukan hanya sekedar gerakan atau bahasa tubuh, melainkan juga gerakan atau bahasa bathin kita berkomunikasi dengan ALLAH. Firman ALLAH di dalam Al-Qur'an disebutkan " Laa taqrobus-sholaata wa antum sukaaro " yang artinya : " Janganlah kamu sholat dalam keadaan mabuk ". Dari ayat tersebut dapat diartikan bahwa di dalam sholat kita harus ingat kepada Allah, harus tahu dengan siapa kita berhadap-hadapan, harus mengerti apa yang sedang kita lakukan... dengan mengerti, sadar, memahami, dan mengimplementasikan arti dan makna dari ayat tersebut, maka kita dapat melaksanakan Adabnya Sholat yaitu : " Aqimis-sholaata lidz-dzikri " artinya : "dirikanlah sholat dengan ingat kepada ALLAH (Dzikrullah) ".
Setelah kita pahami beberapa penjelasan di atas, barulah kita menginjak pada bahasan inti mengenai khusyuk dalam sholat.
Di dalam kitab Majmu'atus Syari'at Li Kafiyatul Awam karya Syekh Muhammad Sholeh bin Umar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat - Semarang (seorang waliyullah yang telah banyak menelorkan ulama'-2 dan pejuang-2 besar di tanah jawa , Beliau meninggal tahun 1321 H/1903 M). Untuk mencapai khusyuk dalam sholat, perlu dijalankan dengan serius beberapa langkah sebagai berikut :
  • Niat Sebelum sholat, perbaikilah niat kita terlebih dahulu. Niat yang benar adalah niat yang ikhlas hanya mengharap Ridho ALLAH (illah, lillah, billah, ilalloh, minalloh) -- itulah sejatinya niat.
  • Menjalankan Ruhnya Sholat yaitu :
  1. Hudlurul Qolb (Menghadirkan hati / mengosongkan hati dan pikiran dari selain ALLAH), bayangkan seolah-2 kita berhadap-hadapan dengan Gusti ALLAH
  2. Faham (faham apa yang sedang dilakukan, faham arti dari apa yang sedang diucapkan)
  3. Ta'dzim (menghadap ALLAH dengan penuh rasa ta'dzim melebihi ta'dzimnya kita kepada orang tua / guru)
  4. Haibah/Khauf (menghadirkan rasa takut yang teramat sangat melebihi takutnya terhadap pejabat/penguasa/binatang buas)
  5. Raja' (berharap dengan sepenuh hati dan jiwa atas segala kemurahan ALLAH, atas Ridho ALLAH, atas ampunan ALLAH)
  6. Al-Hayya' / Malu (malu karena banyak dosa, malu karena belum bisa berbakti kepada ALLAH, malu karena belum dapat menetapi adabnya sholat)
Selain langkah-langkah di atas, masih banyak faktor-2 lain yang perlu diperhatikan seperti :
- Sudah benarkah Istinja' / bersuci kita ?
- Sudah sempurnakah Wudlu dan Mandi kita ?
- Sudah luruskah Tauhid kita ?
- dll.

Dengan sebegitu njlimetnya aturan-aturan dan langkah-2 di atas, maka kami sarankan agar didampingi oleh seorang mursyid / guru. Untuk itu belajarlah... perbanyaklah ilmu... dalami syari'at dengan benar agar selamat dunia akhirat.... Belajarlah pada Ulama-2 yang jelas nasab keilmuannya. Demikian tulisan dari kami, apabila ada kesalahan itu murni dari kami, dan apabila ada kebenaran itu mutlak milik Gusti ALLAH.

<<<<<<>>>>>>>

Kamis, 11 Desember 2008

DUNIA DALAM GENGGAMAN.........

Kalimat di atas bukan bahasa iklan atau bahasa internet..
Kalimat di atas merupakan bahasa SUFI di era globalisasi jaman sekarang ini ....
Mungkin agak bingung bagi sebagian orang untuk menelaahnya. Namun sebenarnya itu adalah bahasa sederhana dan mudah untuk dimengerti bagi orang-orang yang mau membersihkan diri dan hatinya, serta bagi orang-orang yang mau membuka hatinya untuk berserah diri kepada ALLAH. Dibutuhkan hati dan pikiran yang jernih, bersih dari kotoran-kotoran yang menempel (pikiran mesum, ngeres, dll.......... he..he................33x).
Telah berkata salah seorang sufi, Waliyulloh, sekaligus Imam dari para Aulia.. beliau bernama
Sayyidina Syekh Abil Hasan Ali bin Abdullah Asy Syadzaliy (Imam Thoriqoh Syadzaliyyah) :
"Thoriqoh adalah bukan tidak mencintai dunia akan tetapi tidak dicintai oleh dunia..... "
"Sufi adalah bukannya tidak memiliki apa-apa, akan tetapi tidak dimiliki oleh apapun..."
Paham maksudnya......?? he..2x.. Mangsudnya....adalah..... Hidup di dunia ini... semuanya tinggal dinikmati atau dijalani bukan dijauhi... semua sisi dunia punya nilai ibadah.. semua aspek kehidupan dapat membawa kita untuk mendekat kepada ALLAH. Kita pergi ke diskotek kalau niatnya ibadah boleh-boleh aja.. bahkan kita bisa geleng-geleng kepala dengerin musik sambil berdzikir "Laa ilaaha illallah..." ribuan kali. Kita pergi mancing kalau niatnya ibadah bisa melatih kesabaran, keikhlasan, bahkan bisa bersholawat dalam hati sambil melihat ikan ciptaan Gusti ALLAH yang sedang berenang, dll. Semuanya Kalau diniati karena ALLAH sah-sah saja asal........ tidak melanggar syariat / peraturan yang telah ditetapkan dalam Qur'an dan Hadits... oke......
Untuk lebih detil lagi bisa kita bahas dilain waktu ya................

<<<<<
Tulisan Oleh : Muhammad Rifqi Sultan>>>>>


Bagi yang ingin mengetahui Thoriqot Syadzaliyyah yang ada di Indonesia, inilah silsilahnya :

SILSILAH TAREQAT SAZILIYAH ‘ULUWIYAH
DARI MURSYID AL’ARIF BILLAH AL’ALIM
AL’ALAMAH ALHAFIDH ALHABIB
MUHAMMAD LUTHFILLAH BIN ALI BIN YAHYA



ALLAH JALLA JALAALUH

JIBRIL ALAIHIS SALAM

Sayyidil Mursaliin Imaamil Anbiyaa-I Wal Atqiyaa-I Sayyidina Muhammad SAW

01. Amiril Mu’minin Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karomallahu Wajhah
02. Awwalil Aqthobi Sibthin Nabi wa Qurrotin Nabi Sayyidina Hasan bin Ali bin Fathimah Azzahro’ Rodddliyallohu Anhum
03. Quthbil 'Arif Billah Assayyid Abi Muhammad Jabir Roddliyallohu Anhu
04. Quthbil “Arif Billah Assayyid Abi Muhammad Al Ghoswaniy Rodliyallohu Anhu
05. Quthbil ‘arif Billah Assayyid Abi Muhammad Fathus Su’ud Rodliyallohu Anhu
06. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Sa’ad Rodliyallohu Anhu
07. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Sa’id Rodliyallohu Anhu
08. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Abil Qosim Ahmad Almarwaniy Rodliyallohu Anhu
09. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Abi Ishaq Ibrohim Albashriy Rodliyallohu ‘Anhu
10. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Zainuddin Rodliyalolhu Anhu
11. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Syamsudin Rodliyallohu Anhu
12. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Tajudin Rodliyallohu Anhu
13. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Nuruddin Rodliyallohu Anhu
14. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Fachruddin Rodliyallohu Anhu
15. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Naqiyuddin Alfaqir Rodliyallohu Anhu
16. Quthbil ‘arif Billah Assyyid ‘Abdurrohman Almadaniy Rodliyallohu Anhu
17. Quthbil ‘arif Billah Assyyid ‘Abdissalam bin Masyisy Rodliyallohu Anhu
18. Sulthonil Auliya’il’arifin Wa ifrodil ‘Ulama il ‘Amiliin Wa Quthbi Jami’il Maqom wa Ghoutsil A’dhom Assayyid

Asysyeih Abil Hasan Ali Asy Syadzaliy Rodliyallohu Anhu
19. Quthbil Aqthob Al ‘Arif Billah Assayyid Abil ‘Abbas Almursiy Rodliyallohu Anhu
20. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Abil Fath Almaidumiy Rodliyallohu Anhu
21. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Taqiyyudin Alwustho Rodliyallohu Anhu
22. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Al Hafidh Alqolqosandiy Rodliyallohu Anhu
23. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Nurul Qorofiy Qoddasallohu Sirrohu
24. Quthbil ‘arif Billah Assyyid ‘Ali Al Ajhuriy Qoddasallohu Sirrohu
25. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Muhammad Azzarqowiy Qoddasallohu Sirrohu
26. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Muhammad bin Qosim Assakandari Qoddasallohu Sirrohu
27. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Yusuf Adldloriiriy Qoddasallohu Sirrohu
28. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Muhammad Al Bahmiitiy Qoddasallohu Sirrohu
29. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Ahmad Minatulloh Al Malakiy Azzuhriy Qoddasallohu Sirrohu
30. Quthbil ‘arif Billah Assyyid ‘Ali bin Thohir Al Madaniy Qoddasallohu Sirrohu
31. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Sholih Al Muftiy Al Hanafiy Qoddasallohu Sirrohu
32. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Al Habib Ahmad Nahrowiy Al Makiy Qoddasallohu Sirrohu
33. Quthbil ‘arif Billah Assyyid Al Habib Al Hafidh Al’Alamah Muhammad ‘Abdil Malik Qoddasallohu Sirrohu
34. Al Arif Billah Assayyid Al Habib Muhammad Luthfiy bin ‘Ali bin Hasyim bin Yahya, Pekalongan Jawa Tengah , Indonesia



Selasa, 09 Desember 2008

Taubat........

Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu, Dan akupun dalam ketentuan serta janji-Mu sedapat yang aku lakukan. Aku mohon perlindungan-Mu dari kejahatan apa saja yang aku lakukan. Aku mengakui segala kenikmatan yang telah Engkau limpahkan kepadaku, dan aku juga mengakui atas segala dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan pengampunan kecuali Engkau ……..